Moh. Nurul Huda SB - TAUSIYAH

Suatu ketika Ibrahim al-Mahdi masuk ke dalam forum diskusi Khalifah al-Makmun, keponakannya sendiri. Orang-orang yang hadir di sana sibuk membicarakan persoalan fiqih.
 
Al-Makmun yang memang terkenal sebagai pemimpin Abbasiyah yang cinta pengetahuan bertanya kepada sang paman, "Wahai Paman, sumbangsih pikiran apa yang bisa Paman berikan dalam forum ini?"
 
Al-Ma'mun membuka kesempatan Ibrahim untuk berbicara. Sayangnya ia terlihat minder. Ia merasa telah melewatkan masa muda secara sia-sia.
 
"Kenapa kau tak belajar sekarang saja?" tanya Khalifah.
 
"Apa masih pantas orang sepuh seperti saya menimba ilmu?"
 
"Tentu. Demi Allah, engkau mati dalam kondisi sedang belajar ilmu adalah lebih baik ketimbang engkau hidup dalam keadaan puas dengan kebodohan," jawab al-Ma'mun memotivasi.
 
"Sampai kapan aku tetap pantas belajar ilmu?"
 
"Ketika nyawa tak lagi pantas bersemayam dalam dirimu."
 
Dialog singkat ini mengandung pesan utama tentang kewajiban belajar yang tak pandang batasan usia. Sebagaimana sabda Rasulullah, "Timbalah ilmu sejak dari tempat buaian hingga liang lahad." Kisah di atas bisa kita jumpai dalam kitab as-Samîr al-Muhadzdzib (I/9).
 
Terlepas dari beberapa kebijakan kontoversialnya sebagai penguasa, al-Ma'mun yang juga putra Khalifah Harun ar-Rasyid banyak berkontribusi pada kebangkitan intelektual peradaban Islam di zamannya. Dari tangannyalah lahir Baitul Hikmah, pusat riset, penerjemahan, kepustakaan paling moncer di masanya.(Mahbib)

Jumlah Pengunjung

493965

Your IP: 54.167.15.6
Server Date: 14-12-2018

Waktu Sekerang

Tanggal saat ini

04:16, 14th December 2018
December 2018
SMTWTFS
1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
 
Open source productions